Tuesday , 19 October 2021
Home / LifeStyle / Leisure / Corp / Perdagangan Satwa Liar Nasibnya di Penjara
Bukti yang berhasil diamankan berupa satu lembar kulit harimau beserta tulang dan taring disita oleh Polres Langkat. Ist

Perdagangan Satwa Liar Nasibnya di Penjara

Langkat, Next IDTim gabungan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bekerjasama dengan Polres Langkat melakukan penangkapan terhadap 3  orang pelaku perburuan dan perdagangan satwa liar Harimau Sumatera. Penangkapan dilakukan di Kampung Sogong, Desa Kutagajah, Kecamatan Kutambaru, Kabupaten Langkat pada pukul 16.30 WIB, Rabu (25/5).

Setelah dilakukan peyelidikan diketahui pelaku bernama Hendra, Dedi dan Ledes. Barang Bukti yang berhasil diamankan  berupa satu lembar kulit harimau beserta tulang dan taring. Saat ini tersangka diamankan di Polres Langkat dan akan dilakukan penyidikan bersama.

Kementerian LHK melalui Dirjen Konsevasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem serta Dirjen Penegakan Hukum LHK semakin gencar untuk melakukan penindakan terhadap kejahatan perdagangan ilegal Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) atau secara global dikenal sebagai wildlife Crime, karena diketahui bahwa wildlife crime telah menjadi Transnational Organized Crime dan diposisikan serupa dengan kejahatan, seperti korupsi, pencucian uang, senjata api ilegal, obat-obatan, terorisme dan kejahatan terorganisir lainnya. Dan wildlife crime menduduki ranking tertinggi setelah narkoba dan pencucian uang.

Kejahatan TSL / wildlife crime begitu menarik bagi pelakunya karena menjanjikan keuntungan yang sangat besar. Nilai perdagangan satwa ilegal mencapai US$ 15 miliar  – US$ 20 miliar per tahun. Ini merupakan angka perdagangan ilegal yang sangat besar di dunia, di mana nilainya hampir sama dengan perdagangan narkoba.

Menurut data, Indonesia sendiri merupakan negeri yang sangat kaya dengan keanekaragaman biodiversity. Indonesia merupakan rumah dari 17% total spesies yang ada di dunia, yaitu sebanyak 35 ribu – 40 ribu spesies tumbuhan (11-15%), 707 spesies mamalia (12%), 350 spesies amphibi dan reptil (15%), 1.602 spesies burung (17%) dan 2.184 spesies ikan air tawar (37%).

Sementara untuk kelautan terdapat setidaknya 2.500 spesies moluska, 2000 spesies krustasea, 6 spesies penyu laut, 30 spesies mamalia laut, dan lebih dari 2.500 spesies ikan. “Oleh karena itu kita membutuhkan upaya ekstra untuk melindungi dan melestarikan keanekaragaman biodiversity kita guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” sebut Andi Basrul, Kepala Balai Besar TN Gunung Leuser.

About Gatot Irawan

Check Also

Identitas Merek Pelaku UMKM Tetap Terjaga di “Tokko”

Bandung, NextID – Pada Sabtu (25/9) platform digital Tokko resmi diluncurkan. Hadir Gubernur Jawa Barat …

Leave a Reply