Tuesday , 19 October 2021
Home / LifeStyle / Leisure / Corp / Upaya Cegah Perubahan Iklim dan Keberlanjutan Industri
Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup getol untuk menjaga bumi dengan berbagai aktivitas. Salah satunya via diskusi. Ist

Upaya Cegah Perubahan Iklim dan Keberlanjutan Industri

Jakarta, NextID – Perubahan iklim berdasarkan premis dasarnya terjadi akibat peningkatan intensitas kegiatan ekonomi di muka bumi, dan karena adanya aktivitas ekonomi di Indonesia, membuat kita juga rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Melihat bahwa perubahan iklim terjadi akibat kegiatan ekonomi dan industri, Pojok Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang merupakan forum diskusi multi sektoral, mengangkat diskusi perubahan iklim dan mencoba membahas solusinya melalui perspektif ekonomi hijau pada Kamis (26/4) di Jakarta.

Ekonomi hijau yang juga disebut sebagai Ekonomi Rendah Karbon (ERK), adalah kegiatan ekonomi yang menghasilkan emisi gas rumah kaca yang rendah dan mendukung aktivitas adaptasi terhadap ekosistem sebagai upaya saling menguntungkan untuk membangun ketahanan berkelanjutan.

Golongan terbesar yang merasakan dampak perubahan iklim ini, adalah golongan masyarakat yang rendah secara ekonomi, dengan kata lain sekitar 100 juta penduduk beresiko terkena dampak di mana sekitar 60 juta dari bagian ini adalah penduduk yang berada di kawasan pesisir dan 40 juta adalah penduduk dengan mata pencarian sebagai petani. Akibatnya adalah  terjadi peningkatan bencana alam, penurunan produksi atau tangkapan ikan.

Data Asian Development Bank (ADB) menunjukkan, bila Indonesia tidak melakukan tindakan-tindakan mitigasi perubahan iklim sejak kini, setiap tahun hingga 2100, Indonesia diperkirakan akan mengalami kerugian 2,5%- 7% dari nilai PDB negara.

Dalam diskusi itu terungkap, esensinya perlu diambil langkah-langkah menuju ERK, beberapa hal yang dapat dilakukan berdasarkan diskusi Pojok Iklim ini adalah, mengubah jalur pertumbuhan ekonomi dengan aktivitas ekonomi yang rendah jejak karbon.

“Dekarbonisasi ekonomi juga dapat dijadikan pilihan, untuk hal ini, perlu adanya peran aktif dari seluruh pelaku industri untuk dapat mengadopsi teknologi-teknologi rendah karbon dalam proses produksi mereka. Sementara ditingkat konsumen, gaya hidup merupakan tantangan terbesar untuk mengurangi konsumsi karbon,” begitu poin yang menarik.

Indonesia sebagai negara yang berada pada kelompok negara berpendapatan sedang dengan tingkat ekspansi penduduk yang tinggi juga perlu melakukan langkah-langkah pengurangan ekspansi pertanian dan mengupayakan intensifikasi untuk mengurangi pembukaan lahan sebagai upaya mitigasi deforestasi dan degradasi hutan.

Mitigasi GRK dalam industri nasional juga menjadi hal yag penting untuk segera dilakukan, perdagangan dunia yang akhir-akhir ini sangat memperhatikan jejak karbon tiap negaara yang ingin melakukan perdagangan global. Perhitungan dari Bank Dunia, Indonesia dalam 25 tahun terakhir bertumbuh secara ekonomi, namun menghasilkan pertumbuhan 1% emisi karbon setiap tahunnya, dan perubaha penggunaan lahan dan kehutanan serta kebakaran hutan masih merupakan penyumbang GRK terbesar di negara ini, diikuti produksi dan penggunaan energi serta transportasi.

Rekomendasi

Rekomendasi yang dihasilkan pada diskusi kali ini, adalah pengidentifikasian upaya-upaya menggeser penggunaan energi berbasis fosil ke energi terbarukan dan mix energy, penggunaan lompatan teknologi pengelolaan limbah untuk meminimumkan GRK. REDD+ juga masih memegang peranan penting sebagai bentuk mitigasi deforestasi, selanjutnya adalah perlunya upaya pencegahan degradasi dan konversi lahan-lahan gambut diseluruh daerah di Indonesia.

Perubahan iklim harus didudukkan pada instrument ekonomi, Undang-undang No. 32 Thn. 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, secara eksplisit telah mengakomodasi instrumen ekonomi lingkungan didalamnya seperti pada perencanaan pembangunan, anggaran yang berbasis lingkungan hidup (green budget), fasilitas pendanaan, pajak, retribusi, jasa lingkungan (environmental services).

Aset sumber daya alam sebagai penyimpan karbon juga merupakan bentuk dari jasa lingkungan. Hal yag perlu dilakukan adalah sebuah langkah konkret untuk menjadikan instrument ekonomi lingkungan ini menjadi sebuah regulasi yang operasional alam bentuk peraturan pemerintah sehingga dapat digunakan sebagai mesin penggerak ERK.

Melihat lebih dalam tentang kesempatan-kesempatan Indonesia dalam mencapai Ekonomi Rendah Karbon, diskusi ini optimis, bahwa Indonesia bisa memetakan dan menciptakan skenario kebijakan untuk menciptakan ekonomi hijau rendah karbon yang berkelanjutan.

About Gatot Irawan

Check Also

Identitas Merek Pelaku UMKM Tetap Terjaga di “Tokko”

Bandung, NextID – Pada Sabtu (25/9) platform digital Tokko resmi diluncurkan. Hadir Gubernur Jawa Barat …

Leave a Reply