Tuesday , 22 June 2021
Home / LifeStyle / Jelajah Gizi Sarihusada Gali Potensi Makanan Lokal Bali
GIZI KULINER BALI-Head of Corporate Affairs Sarihusada Arif Mujahidin (kiri), didampingi Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor Prof. Ahmad Sulaeman (tengah) dan Chef Muto, juru masak yang ahli kuliner Bali, (ketiga kiri), memperkenalkan nilai gizi dari berbagai masakan tradisional Bali di Pulau Lembongan, Bali, Sabtu (31/10).

Jelajah Gizi Sarihusada Gali Potensi Makanan Lokal Bali

Masakan daerah di negeri ini memang sangat beraneka ragam. Kenikmatannya pun sangat mengundang selera. Namun, nikmat saja tidak cukup, gizi yang terkandung di dalamnya pun harus diperhatikan.

Provinsi Bali yang dikenal memiliki deretan daftar kuliner yang nikmat, namun ternyata juga mengandung kadar gizi yang tinggi. Masakan Bali dikenal sebagai salah satu masakan paling kompleks di dunia karena menggunakan variasi yang luar biasa dari bumbu dan rempah-rempah dicampur dengan sayuran mentah, daging, dan ikan.

Program Jelajah Gizi yang digagas PT Sarihusada Generasi Mahardika (Sarihusada) memperlihatkan dan menggali lebih jauh potensi gizi dan kekhasan makanan Bali diperkenalkan. Program ini mengajak sejumlah wartawan dan blogger yang didampingi oleh pakar gizi untuk melakukan kunjungan ke berbagai daerah di Indonesa untuk mengetahui kearifan lokal daerah setempat.

“Kami memilih Bali karena daerah ini sangat menjunjung kearifan lokal yang terlihat dari masakan Bali yang sangat khas, yang lahir dari tradisi turun temurun dan pemanfaatan potensi alam di Bali,” kata Head of Corporate Affairs Sarihusada Arif Mujahidin di Ubud, Bali, Jumat (30/10).

Berbagai kandungan gizi terbaik ternyata memang telah disediakan secara turun-temurun lewat komposisi kuliner di masyarakat Bali. Salah satu contohnya adalah Lawar.

Ini adalah masakan khas Bali yang memadukan penggunaan bahan dasar aneka sayuran, daging cincang, kelapa, dan berbagai bumbu. Aneka sayuran yang digunakan adalah buah nangka muda, buah pepaya muda, berbagai jenis daun seperti daun belimbing, dan daun jarak, kacang-kacangan seperti kacang panjang, kacang merah dan lain-lainnya, yang dicampur dengan daging cincang yang bisa berasal dari sapi, ayam, atau itik.

Bumbu yang digunakan umumnya terdiri dari lengkuas, kunyit, jahe, kencur, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, merica, kelapa, cabe rawit, terasi, daun ginten dan sereh.

Prof. Ahmad Sulaeman, Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mendampingi dalam program ini, menjelaskan, “Makanan khas Bali seperti Lawar ini memiliki potensi gizi yang lengkap. Makanan unggulan seperti Ayam Betutu, Bebek Goreng Crispy, dan Sate Lilit memiliki kandungan protein. Lawar dan Serombotan yang menggunakan aneka sayuran kaya akan serat, vitamin, dan mineral.”

Beberapa makanan khas Bali, menurut Ahmad, juga menyediakan bumbu dan rempah-rempah yang juga mengandung anti oksidan dan anti bakteri.

Lewat program ini, masyarakat pun disadarkan bahwa peningkatan gizi tidak membutuhkan perlakuan khusus. Hanya dengan menikmati berbagai masakan daerah, warga pun bisa mendapatkan gizi yang sangat cukup untuk meningkatkan kualitas hidup.

About Job Palar

Check Also

‘Wonder Women’ – Pantang Menyerah!

Jakarta, NextID – Merebak berita Bali menjadi salah satu provinsi yang terpuruk perekonomiannya di kala …

Leave a Reply