Tuesday , 22 June 2021
Home / LifeStyle / Leisure / Menikmati Lautan Pasir Bromo
Kawah Bromo

Menikmati Lautan Pasir Bromo

 

Siapa yang sudah ke gunung Bromo, pasti akan terkesima dengan hamparan lautan pasir yang luas, kemegahan gunung Semeru yang menjulang menggapai langit, dan keindahan mentari yang beranjak keluar dari peraduannya. Hal itu akan menjadi pengalaman pribadi yang mendalam dan sulit terlupakan.

Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki keunikan dengan lautan pasir seluas 5.250 hektar di ketinggian 2392 m dpl. Anda dapat berkuda dan mendaki Gunung Bromo melalui tangga dan melihat matahari terbit. Bromo merupakan gunung api yang masih aktif dan terkenal sebagai ikon wisata Jawa Timur. Gunung ini tidak sebesar gunung api lainnya tetapi memiliki pemandangannya yang spektakuler dan dramatis.

Dari puncak Gunung Penanjakan di ketinggian 2.770 m, wisatawan dari seluruh dunia datang untuk melihat panorama matahari terbit dari Gunung Bromo. Pemandangannya sungguh menakjubkan, anda hanya akan mendengar suara jepretan kamera wisatawan ketika menangkap momen sunrise yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Kemudian, anda akan melihat latar depan Gunung Semeru yang mengeluarkan asap dari kejauhan dan matahari bersinar terang naik ke langit.

Ada beberapa gunung di kawasan Bromo seperti Gunung Watangan (2.661 m dpl). Gunung Batok (2.470 m dpl), Gunung Kursi (2.581 dpl), Watangan Gunung (2661 m dpl), dan Widadaren Gunung (2.650 m dpl). Dengan pemandangan yang indah, akses yang mudah dan fasilitas cukup memadai, tidak heran bahwa tempat ini merupakan salah satu destinasi wisata yang paling populer di Jawa.

Untuk sampai ke Gunung Bromo, anda dapat terbang dari bandara internasional Juanda-Surabaya. Dari sana, anda dapat melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo dengan memesan travel agent atau mengendarai mobil dengan rute Surabaya-Pasuruan-Wonokitri-Gunung Bromo.  Perjalanaan itu menghabiskan waktu 2 sampai 4 jam. Ada tiga pintu masuk lain selain jalur di atas yaitu Desa Cemorolawang bila anda melalui jalur Probolinggo, Desa Ngadas bila anda melalui jalur lewat Malang, dan Desa Burno bila lewat jalur dari Lumajang. Kesemua jalur itu dapat ditempuh dengan nyaman di atas kendaraan roda empat.

Sedikit sulit untuk mendapatkan makanan di kawasan nasional Bromo. Sebagian besar warung di daerah Bromo tutup setelah pukul 19:30 waktu setempat. Karena itu, pastikan anda berbelanja sejak sore hari. Jika anda berada di wilayah Wonokitri, ada beberapa warung di pasar Tosari yang biasanya buka antara 7-9 malam. Warung-warung dan restoran-restoran itu menyediakan berbagai macam makanan khas Indonesia seperti ketoprak, nasi goreng, rujak cingur, bandrek, dan banyak lagi yang lainnya.

Ada beberapa penginapan dan hotel terletak di sekitar Gunung Bromo. The Bromo Guest House terletak di Ngadisari yang terletak 3 km dari pinggiran kawah. Anda juga bisa menginap di Cemoro Lawang yang terletak di dekat kawah. Anda juga dapat menginap di Tretes, Pasuruan, atau Malang yang kota-kota terdekat ke Bromo dengan resor sejuk bernuansa pegunungan. Selain itu ada juga banyak hotel bagus yang menawarkan pemandangan spektakuler Gunung Semeru dan Gunung Arjuna seperti Java Banana Bromo, Bromo Cottages Tosari (Pasuruan), Café Lava Hotel (Cemorolawang), Lava View Cottage Bromo (Cemorolawang) dan Hotel Bromo Permai  (Cemorolawang).

Ada banyak toko-toko suvenir di sekitar Gunung Bromo yang menjual T-shirt, syal wol dan suvenir lainnya. Ada juga penjual yang menjual souvenir di dalam area padang pasar.

Mitos

Gunung Bromo berasal dari kata Brahma (salah seorang Dewa dalam agama Hindu). Gunung Bromo dihuni oleh Suku Tengger yang tinggal di kawasan Gunung Bromo percaya bahwa Gunung Bromo merupakan tempat seorang pangeran mengorbankan hidup untuk keluarganya. Disana, suku Tengger menggelar festival Yadnya Kasada atau Kasodo setahun sekali pada bulan Kasada/ke-sepuluh (biasanya bulan September-November). Suku Tengger akan mempersembahkan sayuran, ayam, dan uang yang dibuang ke dalam kawah gunung berapi sebagai persembahan kepada dewa.

Tips

1. Suhu udara di Gunung Bromo berkisar antara 3°-20° celcius, tetapi bisa menyentuh di bawah nol derajat celcius selama musim kemarau. Jika anda tidak kuat dengan udara dingin, sebaiknya anda membawa jaket, sarung tangan, dan topi atau penutup kepala lainnya.

2. Jangan lupa membawa kamera atau handycam agar dapat menangkap momen keindahan alam yang menakjubkan.

3. Dari Penanjakan ke Lautan Pasir, rutenya sangat curam, sehingga kendaraan roda empat biasa tidak disarankan. Berkuda, jalan kaki, atau menyewa kendaraan  4X4 dari pemandu wisata dapat menjadi alternatif.

4. Jika anda membeli atau menyewa sesuatu, anda harus menawar terebih dahulu. Matahari akan terbit di antara pukul 05.00 dan 06.00 pagi waktu setempat (jika tidak mendung), jadi anda harus berangkat dari hotel atau penginapan pukul 03:00.

5. Waktu terbaik untuk melihat matahari terbit adalah di musim panas dari bulan April hingga Oktober.

6. Sebelum anda mulai trekking atau pendakian, pastikan anda telah makan terlebih dahulu atau membawa beberapa makanan dan minuman di dalam tas anda.

About Adam Rizal

Check Also

Semangat Febrantonius Sinaga Hasilkan Karya Seni Jempolan!

Jakarta, NextID – Dalam berkarya di tengah Covid-19 ini tidak ada jurus lain, selain  harus …

Leave a Reply